Tuesday, August 31, 2010

Melepas Raúl González



The Legend

Tak terbayangkan sang legenda Madrid ini harus mengakhiri perjalanannya bersama rekan setimnya selama 16 tahun. Sepanjang rentang waktu itu, Raul mengalami berbagai fase perubahan sampai akhirnya ia memiliki beberapa julukan Malaikat Madrid, Anak Emas Spanyol, Sang Legenda, El Capitan, El Siete, atau hanya Raul.

Legenda dimulai ketika ia menyeberang ke Santiago Bernabeu untuk memulai karir sebagai pemain muda. Saat ia berumur 15 tahun ia gagal masuk akademi Atletico Madrid. Namun dua tahun kemudian, Raul mampu menembus tim inti Los Merengues.

Jorge Valdano lah yang mempercayakan posisi tersebut kepada Raul. Debut pertama kalinya ditandai saat ia masih berusia 17 tahun, menghadapi Real Zaragoza akibat cedera yang menimpa Martin Velasquez. Debut itu berakhir dengan kekalahan 3-2, tapi tempatnya di tim inti tetap aman. Pada pertandingan berikutnya, Raul mencetak gol dalam kemenangan 4-2 atas Atletico Madrid.

Kemudian tercatatlah sejarah, sejumlah 228 gol dicetaknya dalam 549 pertandingan liga.
Raul tak hanya menjadi sebagai pesepakbola atau pencetak gol untuk Madrid, tapi sebagai ikon klub. Pria yang kini berusia 33 tahun ini menyimpan rapat-rapat kehidupan pribadinya di luar lapangan. Raul seolah hanya mau memikat fans melalui congkelan sederhana atau beberapa gol saat tampil di atas lapangan.

Raul tak menyukai sebutan Los Galacticos saat Florentino Perez memulai perjalanan sebagai presiden klub. Secara kebetulan, Raul mulai kehilangan bentuk penampilan. Beberapa pemain terbaik dunia masuk dan mengganggu konsistensi permainannya seperti Luis Figo, Zinedine Zidane, Ronaldo, Roberto Carlos, dan David Beckham tak hanya masuk sebagai rekan setim, tapi pesaing di tim inti. Raul tetap tegar menghadapi tantangan tersebut.

Sempat menjadi saksi pergantian serangkaian pelatih, tepatnya 17 kali, Raul mengalami masa-masa kepemimpinan Valdano, mulai dari pelatih hingga sekarang menjadi direktur, dua kali dilatih Fabio Capello, Jose Antonio Camacho yang juga melatihnya di timnas, serta Vicente del Bosque.

Di atas lapangan, pasangan sempurna Raul adalah Fernando Morientes. Duet penyerang ini begitu menakutkan karena memiliki kesepahaman yang hebat. Selama enam musim, mereka bermain bersama dan menciptakan total 245 gol di semua ajang.

Masuklah Ronaldo. Bersama penyerang Brasil ini, Raul harus merelakan posisi penyerang utama. Bersama Michael Owen, Raul tak pernah mengalami perpaduan sempurna meski pasangannya tersebut mampu menyabet Ballon d'Or 2001.

Pelan-pelan sentuhan Raul kembali saat bermain dengan pemain setipe Morientes, Ruud van Nistelrooy. Begitu pula ketika berdampingan dengan Gonzalo Higuain sebelum akhirnya seperti sebuah déjà vu, Raul harus kembali lagi mengalah dan memberi jalan kepada Cristiano Ronaldo.



The Finale

Dongeng Raul bersama Madrid sebenarnya dapat berakhir 2003 silam ketika Florentino Perez berupaya menjualnya ke Chelsea dengan transfer senilai £71,4 juta plus gaji £8,4 juta per musim. Tanpa berpikir dua kali, tawaran menggiurkan tersebut ditolaknya.

Meski harus menghadapi tantangan dari banyak bintang, penampilan Raul tetap konstan dan menjadi teladan bagi para pemain muda Madrid. Namun, meski El Capitan telah menjadi Raja, dia tetap saja tidak abadi dan harus mengalami sebuah akhir.

Petualangan Raul di Santiago Bernabeu adalah sebuah perjalanan panjang. Fans tak pernah membayangkan Raul akan meninggalkan Madrid dan bermain untuk tim lain, baik di Spanyol maupun luar negeri. Dia seorang pemain yang identik dengan sebuah klub. Sungguh sebuah momen yang tak terlupakan, ketika Raul memainkan laga kompetitif terakhirnya bersama Madrid dan menyumbangkan sebuah gol ke gawang Real Zaragoza, klub yang juga dihadapinya saat memulai debut.

Momen yang penuh warna bagi para pendukung. Sedih untuk para fans menyaksikannya meninggalkan klub, tapi bahagia dengan penampilannya di atas lapangan serta turut mewarnai dunia sepakbola.

Sejak bermain bersama striker yang lebih matang seperti Ivan Zamorano, Michael Laudrup, Davor Suker, dan Predrag Mijatovic, Raul banyak belajar sebagaimana teladan yang diserapnya dari Manolo Sanchis, Fernando Hierro, dan Fernando Redondo. Fase akhir kiprahnya ditandai dengan memimpin tim dengan sekumpulan pemain hebat macam Zidane hingga Cristiano Ronaldo. Momen seperti ini akan dikenang selamanya.

Kita takkan lagi menyaksikan Raul di atas rumput Estadio Santiago Bernabeu.



Source : www.goal.com


My Opinion

Sang legenda pun akhirnya harus turun, namun daun baru akan terus tumbuh. Ketika Raul harus pergi meninggalkan El Clasico takkan ada lagi pemain yang dapat menggantikan permainan dan fans yang terus mendukungnya. Memang sudah saatnya untuk Raul mengakhiri perjalanan sepakbolanya, kini seragam bernomor 7 telah hilang dari takhtanya di lapangan hijau dan menunggu untuk pemain selanjutnya yang mungkin dapat menggantikan posisi Raul. Namun, takkan ada pemain yang dapat menggantikan permainan dan title "El Capitan" dari sejarah El Clasico dan dunia sepak bola.

No comments:

Post a Comment